Selasa, 27 November 2007

pertekom

Fenomena Fakultas Ilmu Komunikasi
Tidak Mudah Menjadi Kampus Favorit

PERKEMBANGAN media massa televisi, radio, internet, dan koran, kini seperti cendawan di musim hujan. Efeknya, banyak orang yang ingin bekerja di bidang itu. Hal itu pun mendorong maraknya pembukaan program studi ilmu komunikasi di perguruan tinggi.

Zaman Orde Baru, perusahaan koran yang memiliki Surat Izin Umum Penerbitan Pers (SIUPP) cuma 321. Saat itu media televisi juga hanya TVRI. Tapi, setelah Mei 1998, semuanya berubah. Reformasi membawa angin baru. Media massa cetak muncul seperti cendawan di musim hujan. Hanya dalam tempo satu tahun setelah reformasi, jumlah media massa cetak berubah menjadi 852 perusahaan. Kini, jumlah itu berkembang terus.

Lantas media elektronik, televisi dan radio, serta internet juga mengalami booming luar biasa. Sejak diterbitkannya UU Penyiaran, televisi nasional bertambah menjadi 10. Radio, sudah tidak terhitung.

Di tingkat lokal Bandung saja, televisi sudah marak. Lihat saja kemunculan Bandung TV, CT Channel, STV, dan Padjadjaran TV. Radio lokal juga tidak terhitung. Sampai-sampai kanal frekuensi radio di Bandung disebut terpadat se-Indonesia.

Perubahan-perubahan tadi diduga menjadi penyebab banyaknya orang yang ingin bekerja di tempat itu. Hal ini telah menggugah pengelola perguruan tinggi di Indonesia untuk membuka program studi baru yang terkait kebutuhan industri. Sebut saja salah satunya, di bidang sosial, lulusan ilmu komunikasi.

Tidak tentu jumlah fakultas, departemen atau jurusan ilmu komunikasi di Indonesia. Untuk sisi Bandung saja, 10 jari habis untuk mendata universitas, dan sekolah tinggi yang memasang iklan disiplin ilmu tersebut. Beberapa waktu lalu di Salatiga, Jawa Tengah, terdapat 37 pengelola perguran tinggi yang membuka sekolah tinggi, fakultas atau jurusan ilmu komunikasi.

Contoh, Universitas Padjadjaran dan Universitas Islam Bandung. Unpad bisa dikatakan satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia yang meletakkan disiplin ilmu komunikasi sebagai fakultas. Fakultas ini memiliki beberapa program studi, untuk S1, yaitu Jurnalistik, Hubungan Masyarakat, Manajemen Komunikasi, dan Ilmu Informasi dan Perpustakaan.

LANTAS apa alasan mahasiswa memilih Fikom? Sesuai dengan ilustrasi perkembangan perusahaan media massa, orang memilih Fikom karena dianggap memiliki masa depan cerah. Orang yakin, dengan memilih fakultas ini mencari kerja pun mudah.

Seperti , M. Yusuf Yaris, mahasiswa Fikom Unisba angkatan 2006. Ia punya tujuan yang sangat sederhana ketika ditanya alasan memilih Fikom. Ia berkata, "Dunia entertaiment tidak bakal mati."

Selain Yusuf, beberapa mahasiswa Fikom dari beberapa kampus lain, juga menyatakan hal yang mirip. Rata-rata punya keinginan praktis. Misalnya, ada yang ingin jadi jurnalis, humas, Master of Ceremony, dan penyiar radio.

Tapi, faktanya jarang mahasiswa baru yang paham terhadap pilihannya. Mahasiswa mengeluh kenapa masuk ilmu komunikasi masih harus belajar sosiologi, psikologi, antropologi dan cabang-cabang lain dalam ilmu sosial. Malah, ada yang mengeluh kenapa harus belajar statistika. Padahal, konon, anak-anak yang masuk ilmu komunikasi karena tidak mau bertemu hitung-hitungan matematika seperti statistika.

Guru Besar Fikom Unpad, Deddy Mulyana, menjelaskan, sejak awal ilmu komunikasi ada di Indonesia memang sudah terkait dengan citra sebagai ilmu praktis. Saat Fikom Unpad masih bernama Fakultas Publisistik, mahasiswa yang masuk fakultas ini selalu dikaitkan dengan tujuan menjadi wartawan.

Ia menjelaskan, keberadaan ilmu komunikasi itu tidak lepas dari dua arus di Amerika dan Jerman. Orang Amerika memang memiliki kesan ilmu komunikasi sebagai ilmu praktis. Dan, di Jerman, konsentrasi pelajar mengarah pada kajian filsafat ilmu dari ilmu komunikasi.

Namun, di Amerika, kata profesor ini, citra praktis tidak lantas membatasi ruang gerak disiplin ilmu komunikasi. Di negeri paman sam, seorang yang belajar komunikasi bisa menjadi sutradara, direktur suatu perusahaan, dan penulis skenario. Dasarnya komunikasi, tapi penggunaannya bisa kemana-mana.

Kalau menurut akademisi dari Unisba, Alex Sobur, sifat umum yang dimiliki ilmu komunikasi merupakan kekuatan. Banyak warna yang menambah pengetahuan mahasiswa. Singkatnya, mahasiswa ilmu komunikasi bisa tanding bicara dengan jurusan sosial lain seperti politik, sosiologi, antropologi dan sejarah.

Namun, di balik sebuah kekuatan ada pula tantangan. Ilmu komunikasi terus berkembang. Malah lebih pesat dari apa yang diajarkan di kampus. Misalnya, lihat perkembangan teknologi komunikasi saat ini ada tanda-tanda menggeser teori ilmu komunikasi massa.

Umpamanya, teori yang mengatakan bahwa komunikasi massa bersifat satu arah, ternyata perlu dikoreksi dengan hadirnya sifat interaktif di media televisi dan radio. Lalu, teori yang menyebut media cetak dan penyiaran terpisah juga perlu dikoreksi.

Awal tahun ini, konglomerat Microsoft, Bill Gates, sesumbar di ajang World Economic Forum yang digelar di Davos, Swiss, internet akan menggeser era televisi dalam waktu lima tahun lagi.

Seperti yang diberitakan Reuters (27 Januari 2007), internet diperkirakan akan mengubah peran televisi (TV). Ini dikarenakan maraknya konten video online dan penggabungan fungsi PC (komputer) dan TV.

Perubahan yang begitu cepat, menurut Deddy Mulyana, merupakan tantangan bagi akademisi. Kualitas pengajar dan apa yang diajarkan menjadi titik tolak mahasiswa bersaing. Menurut Deddy, masalah SDM ini merupakan kelemahan pertama fakultas atau jurusan ilmu komunikasi.

Fakta di Jawa Barat, keberadaan seorang guru besar ilmu komunikasi baru ada dua orang. Salah satunya, Deddy Mulyana. Para pengajar, juga masih jarang yang bergelar doktor. Berbeda dengan di Amerika, di mana sebuah departemen atau jurusan dibimbing oleh dosen bergelar doktor.

Lalu, menurut Alex Sobur, masih sedikit jurnal ilmiah atau dosen yang mau menulis di jurnal ilmiah. Unisba punya jurnal komunikasi internal bernama Mediator. Tapi, kata Alex, yang menulis sangat sedikit dan orangnya tidak berganti. "Ini adalah fenomena umum yang terjadi," katanya.

Tantangan lain tentu pada kemampuan kampus menyerap teknologi komunikasi. Menurut Pembantu Dekan 1 Unisba, Teguh Prayitno, tidak semua kampus memenuhi sarana laboratorium, seperti, multimedia dan audivisual. Karena itu, saat pengelola perguruan tinggi yang memiliki ilmu komunikasi bertemu di Salatiga, minggu lalu, ada wacana untuk membuat standarisasi laboratorium.

Masalah-masalah lain yang sedang dihadapi oleh program studi ilmu komunikasi adalah kurikulum. Rata-rata kampus baru mengoreksi kurikulumnya 2-3 tahun sekali. Tapi, siapa yang bisa menerka berapa cepat perubahan teori dan teknologi di luar kampus?

Dekan Fikom Unpad, Soeganda Priyatna, yakin kurikulumnya selalu siap mengantisipasi perubahan. Ia mengklaim selalu menyimak gejala perubahan sehingga kurikulum bisa direvisi.

Deddy Mulyana mengatakan, mahasiswa dan dosen ilmu komunikasi sudah selayaknya gaul. Bukan cuma ke dunia gemerlap, tapi aktif mengikuti seminar, dan membuka jurnal ilmiah guna mengetahui perubahan. "Kalau nggak begitu bisa ketinggalan," katanya.

Jika tidak gaul, mahasiswa ilmu komunikasi bakal kerepotan bersaing. Sebab, sudah mulai era campur aduk. Mahasiswa dengan dasar ilmu teknologi saja sudah mulai belajar ilmu komunikasi. Nah, mampukah kampus dan mahasiswa ilmu komunikasi membaca situasi ini?

Tidak ada komentar: